"Meskipun materi braille masih sulit, namun dengan pendekatan braille akan melatih anak untuk lebih mandiri. Tentu secara inklusi juga perlu diberikan," ujarnya.Kepala SDLB Bhayangkari Gresik Masruroh Afnan mengatakan, peserta UASBN terdiri dari dua siswa tunarungu dan satu siswa tunanetra. Pelaksanaan ujian bagi siswa tunarungu masih memerlukan bantuan guru. Peserta UASBN tunanetra diikutkan UASBN inklusi bersama siswa normal lain di SD Negeri 1 Singosari. Menurut Masruroh, kemampuan siswa tunanetra itu di atas rata-rata, tetapi perlu orang lain untuk membacakan soal dan menandai jawaban di lembar jawaban. "Dari sisi kemampuan, siswa yang bersangkutan tidak kalah karena, dari try out yang diikuti, hasilnya di atas rata-rata," katanya. Selain meninjau pelaksanaan UASBN di SDLB Bhayangkari Gresik, Seto dan Rasiyo juga meninjau pelaksanaan UASBN di SDN Kebomas, SD Muhammadiyah GKB dan MI Fuluhatul Ulum Manyar. Rasio menyatakan, pelaksanaan ujian di Gresik berlangsung lancar. Dia menambahkan, untuk soal standar nilai kelulusan diserahkan kepada sekolah masing-masing. Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Gresik, Sakiran, menyatakan, standar nilai kelulusan UASBN SD di Gresik beragam. Standar kelulusan tertinggi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA 5,5, Matematika tertinggi 5,0. Namun, ada juga sekolah yang mematok standar kelulusan 3,5. Di Gresik, peserta UASBN tingkat SD tahun ajaran 2008/2009 mencapai 19.559 peserta. Pelaksanaan UASBN kali ini terbagi dalam 18 subrayon dari 1.387 lembaga SD, MI, dan SDLB.
Evaluasi Pembelajaran
apadefinisinya.blogspot.com
- Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran bagi masyrakat.
- Evaluasi adalah seni, tidak ada evaluasi yang sempurna, meski dilkukan dengan metode yang berbeda.
- Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif.
- Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan.
- Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya.
- Evaluasi adalah proses, jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi.
- Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup, hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi.
- Evaluasi akan mantap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable.
- Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan evaluasi program.
- Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat, bukan terpaku pada angka soalan tes.
- Fungsi normatif : berfungsi untut perbaikan sistem pembelajaran
- Fungsi diagnostik : untuk mengetahui faktor kesulitan siswa dalam prose pembelajaran
- Fungsi sumatif : berfungsi untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik
- Fungsi penempatan
- Objektif : sesuai dengan kemampuan siswa
- Kontinuitas : berkesinabungan
- Komperhensif : berkaitan dengan sikap nilai
- Praktis : praktis digunakan penidik dan peserta didik
- Akuntabilitas : tanggung jawab
Read More......Validitas : ketepatan Realibilitas : ketetapan Praktis Diskriminatif Bentuk evaluasi
- Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses
- Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru
- Apa yang saya ajarkan hari ini?
- Apa yang masih membingunkan bagi siswa?
- Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan?
- Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan?
- Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan?
- Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan?
- Apakah saya telah membelajarkan siswa?
- Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran?
- Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi?
- Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo, websites, dll)?
- Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai?
- dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
- dokumen hasil diskusi, kliping, laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar
- dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumber-sumber belajar
- dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan, mengakses internet, kelompok ilmiah remaja, kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris, bahasa arab, bahasa jepang, bahasa mandarin, bahasa perancis, dan lain-lain), mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum, kebun raya, pusat industri, dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar
- dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi, daur ulang sampah, kunjungan ke laboratorium alam, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab
- dokumen kegiatan pekan bahasa, seni dan budaya, pentas seni, pameran lukisan, teater, latihan tari, latihan musik, ketrampilan membuat barang seni, karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya
- dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan, konser musik, pagelaran tari, musik, drama, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya
- dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas, tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif.
- dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama, peringatan hari-hari besar agama, membantu warga sekolah yang memerlukan
- dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa, seperti: hasil portofolio, buletin siswa, majalah dinding, laporan penulisan karya tulis, laporan kunjungan lapangan, dan lain-lain
- dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah.
BAB XI
“Kita sepakat program-program Disdik Sumut harus dievaluasi agar anggaran pendidikan yang mencapai Rp700 miliar atau 20 persen dari total APBD 2009 benar-benar tepat guna dan tepat sasaran,” ujar Wakil Ketua DPRD Sumut, H. Ali Jabbar Napitupulu, kepada ANTARA di Medan, Rabu.Ali Jabar yang pada kesempatan itu didampingi Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Sumut, Ridwan Bustan, mengatakan, kesepakatan itu dirumuskan pada rapat panitia anggaran yang dilangsungkan Selasa (18/11) malam. Dalam rapat yang berakhir sekitar pukul 01.00 WIB, Rabu (19/11) dinihari itu disepakati anggaran pendidikan Sumut harus diarahkan pada empat sasaran utama, yakni untuk peningkatan kualitas SDM pendidik, kesejahteraan guru, beasiswa bagi siswa kurang mampu serta untuk penyediaan sarana dan prasarana bagi kelancaran proses belajar-mengajar.
“Ke depan anggaran pendidikan Sumut yang sangat besar itu harus dapat diarahkan secara seimbang pada empat sasaran utama itu. Di luar itu omong kosong dunia pendidikan Sumut bisa bangkit, apalagi jika dikaitkan dengan visi ‘rakyat tidak bodoh’ yang diusung Gubernur H. Syamsul Arifin ” katanya.Anggota dewan dari Fraksi Partai Persatuan Pembagunan (PPP) itu mengatakan, program-program yang diusulkan Disdik Sumut dalam RAPBD 2009 justru tidak tetap guna dan tidak tepat sasaran sebagaimana diharapkan.
“Karena itu kita dari DPRD Sumut ngotot program-program yang diusulkan Disdik Sumut itu harus dievaluasi, semua pihak termasuk dinas terkait dan Bappeda juga sepakat,” katanya.Pendidikan guru Lebih lanjut Napitupulu yang juga caleg PPP untuk DPRD Sumut dari dapil II Kabupaten Deli Serdang itu menyebutkan, dari sisi SDM harus segera dilakukan penyetaraan pendidikan guru dari tamatan SLTA menjadi setara S1. Menurut dia, dewasa ini di Sumut terdapat sekitar 102 ribu guru yang belum setara S1 dan dalam lima tahun ke depan seluruhnya harus sudah S1. Artinya, setiap tahun minimal 20 ribu guru harus disetarakan pendidikannya.
“Disdik Sumut dalam RAPBD 2009 hanya mengusulkan penyetaraan 1.000 guru saja per tahun. Ini jelas tidak masuk akal jika dilihat dari anggaran yang tersedia dalam APBD 2009, karenanya kita mengevaluasinya,” jelasnya.Untuk peningkatan kesejahteraan, dalam APBD 2009 juga dialokasikan tunjangan guru sebesar Rp600 ribu per orang. Pemberian tunjangan itu akan dilakukan melalui “sharing” dana dengan pemkab/pemko di Sumut. Sementara menyangkut penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, menurut dia, berhubungan dengan renovasi berat dan ringan terhadap sekolah atau ruang kelas SD hingga SLTA serta penyediaan sarana penunjang belajar-mengajar lainnya.
“Sedangkan untuk beasiswa sasarannya jelas anak-anak berprestasi dari keluarga tidak mampu. Jika anggaran pendidikan dapat diarahkan pada empat sasaran ini, kita yakin visi ‘rakyat tidak bodoh’ akan dapat dicapai Sumut dalam waktu yang tidak terlalu lama,” kata Ali Jabbar Napitupulu.
1. tujuan pengukuran, 2. ada objek ukur, 3. alat ukur, 4. proses pengukuran, 5. hasil pengukuran kuantitatif.Sementara, pengertian asesmen (assessment) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Sedangkan evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggeris evaluation yang bertarti value, yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:
1. Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu. 2. Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas. 3. Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasilpengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui bahwa perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhadap pertanyaan “what value” untuk evaluasi dan “how much” untuk pengukuran. Adapun asesmen berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. Artinya bahwa sebelum melakukan asesmen ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran. Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation) secara teoretik definisinya berbeda, namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluasi pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta pembandingan (assessment). Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari:
1. perencanaan, 2. pengumpulan data, 3. verifikasi data, 4. analisis data, dan 5. interpretasi data.Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.
Evaluasi Proses Pembelajaran Menulis
http://journal.um.ac.id/index.php/sekolah-dasar/article/view/330
Sebagai suatu proses, menulis terdiri dari rangkaian aktivitas pramenulis, penulisan draft, revisi, penyuntingan, dan publikasi. Perkembangan menulis mangikuti prinsip keterulangan, generatif, konsep tanda, fleksibilitas, dan arah tanda. Kondisi kelas yang alami merupakan prasyarat bagi terlaksananya pembelajaran menulis secara terpadu. Siswa harus dikondisikan agar dapat berinteraksi dengan teman, guru, dan buku. Evaluasi proses pembelajaran menulis dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keefektifan kegiatan belajar-mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran menulis. Teknik yang digunakan dapat berupa pemantauan informal tulisan, melalui pengamatan, konferensi, dan mengumpulkan tulisan. Penilaian proses menulis dapat dilakukan dengan menggunakan ceklis proses menulis, konferensi guru-siswa, dan penilaian yang dilakukan oleh siswa.
Pengajar atau institusi menyediakan media untuk melakukan kolase seperti buku refleksi masing-masing pembelajar, majalah, poster, koran, pena berwarna, cat air, lem, gunting dan media-media lain yang sesuai dengan minat pembelajar. Pembelajar juga dapat membawa sendiri media-media yang ingin ia gunakan.
Pengajar memberikan stimulus tentang hal-hal yang dapat dituangkan ke dalam kolase. Misalnya, pengajar mengingatkan kembali materi-materi yang dipelajari hari itu, tanya jawab dengan pembelajar tentang hal-hal yang baru yang menjadi pembelajaran mereka hari itu.
Pembelajar diberikan waktu untuk mengerjakan kolase mereka masing-masing. Pengajar hanya bersifat sebagai fasilitator bagi mereka yang membutuhkan bantuan.
Kolase yang sudah selesai dapat digunakan sebagai media evaluasi di dalam kelompok atau kelas terhadap apa saja yang mereka pelajari. Dalam forum ini baik pengajar maupun pembelajar mendapatkan umpan balik dari apa yang mereka pelajari.
Kolase yang sudah selesai dibahas dapat disimpan oleh masing-masing pembelajar sebagai bahan refleksi dan catatan bagi mereka. Kolase dapat efektif bila jumlah pembelajar dalam kelas tidak lebih dari lima orang, dengan kata lain kelas kecil.Hal ini dikarenakan kolase selain digunakan sebagai media evaluasi dan refleksi tetapi juga sebagai media pengikat hubungan interpersonal antara pembelajar dan pengajarnya. Kolase sebagai media evaluasi dan refleksi bukanlah cara yang kekanak-kanakan untuk digunakan dalam pembelajaran BIPA. Oleh karena itu, penggunaan kolase lebih dikhususkan kepada pembelajar BIPA tingkat pemula. Pembelajar BIPA tingkat pemula adalah pembelajar yang baru akan mengenal bahasa Indonesia untuk nentinya akan digunakan sebagai B2 mereka. Pembelajar tingkat pemula tentu saja mempelajari kosakata-kosakata dan tata bahasa tingkat dasar. Untuk mempelajarinya tentu diperlukan usaha yang cukup keras, mengingat pembelajar BIPA di Indonesia kebanyakan adalah pembelajar dewasa. Dengan menggunakan kolase pembelajar dapat menemukan cara belajar yang menarik dan tidak membosankan. Cara pengaplikasian kolase dapat disesuaikan dengan tema dan teknik yang diberikan pada saat pembelajaran. Lebih jelasnya terlihat pada gambar 1: Gambar 1 Evaluasi tidak selalu menekankan pada pencapaian materi. Terkadang ada hal-hal di luar materi yang ternyata dapat menjadi bahan pelajaran bagi beberapa pembelajar. Contohnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan budaya, baik budaya Indonesia maupun budaya asal pembelajar. Hal itulah yang dikaji dalam makalah ini. Kolase sebagai sebuah produk media evaluasi dan refleksi dalam pembelajaran BIPA bisa sangat efektif untuk menangani hal-hal seperti tersebut di atas. Kolase di sini digunakan sebagai media evaluasi, refleksi dan catatan materi pembelajaran khususnya bagi pembelajar itu sendiri. Kolase sebagai media evaluasi proses merupakan media evaluasi yang dikerjakan selama pembelajaran berlangsung. Kolase sebagai media evaluasi hasil merupakan bentuk kolase yang komunikatif berkaitan dengan hasil belajar yang dituangkan oleh pembelajar ke dalam kolase miliknya. Dengan menggunakan kolase, pembelajar dapat mengukur sejauh mana ia dapat menyerap materi yang diberikan hari itu. Saat pembelajar mengerjakan kolase pengajar bertindak sebagai fasilitator dan pengingat untuk materi-materi yang dianggap penting. Kolase-kolase hasil belajar ini terkumpul dalam sebuah buku yang berfungsi sebagai buku evaluasi, refleksi dan catatan. Kolase di sini juga dapat berfungsi sebagai buku tugas bila pembelajar diberikan tugas oleh si pengajar. Selain itu, kolase dapat juga digunakan pengajar untuk mengevaluasi hasil belajar dari pembelajar. Sehingga tes-tes tertulis sebagian bisa digantikan dengan hanya mengevaluasi kolase masing-masing pembelajar. Terangkumnya semua materi dalam satu buku dengan disain menarik yang sesuai dengan pribadi masing-masing mendorong pembelajar untuk bangga dengan hasil belajar masing-masing pembelajar, dan kemudian dapat membuat pembelajar merasa senang untuk mempelajarinya berulang kali. Dengan adanya alternatif-alternatif untuk mengembangkan pembelajaran BIPA, diharapkan pembelajaran BIPA dapat menjadi salah satu pembelajaran B2 yang menantang dan menyenangkan untuk dilakukan. Hal ini akan memberikan keuntungan, baik bagi negara Indonesia maupun bagi negara-negara asal pembelajar BIPA tersebut. Penggunaan kolase dalam pembelajaran BIPA, khususnya bagi pembelajar tingkat pemula, dapat menjadi alternatif menarik yang dapat mendukung perkembangan bahasa Indonesaia itu sendiri.
- tujuan kurikulum dengan bahan pelajaran,
- bahan pelajaran dengan evaluasi, dan
- tujuan kurikulum dengan evaluasi. Jadi evaluasi itu harus merujuk kepada kurikulum dan bahan pelajaran.
