"Lebih kurang, jaraknya 60 kilometer ke pusat kota. Jadi kan rasanya tidak terkejar mengambil soal dari kantor dinas. Lagi pula, peserta UASBN kita dari SDN 045 cuma tiga orang," ujar Firdaus.Seusai mengikuti UASBN, ketiga murid SDN 045 tampak gembira. Mereka mengaku senang bisa ikut ujian akhir itu, meski harus menginap di lokasi SDN 003 selama pelaksanaan UASBN. Untuk penginapan murid dan guru pendamping ketiga murid itu, Kepala SDN 003 Zulkifli Hasibuan mengatakan, pihaknya menyediakan rumah guru yang ada di kompleks SDN 003. Selain murid dari SDN 045 yang menumpang ikut ujian di SDN 003, juga ada 21 murid dari MIS Hubbullah yang menumpang ikut ujian di SDN 003. Dengan demikian, jika ditambah dengan 71 murid peserta ujian dari SDN 003, maka total jumlah peserta ujian di sekolah itu sebanyak 95 murid.
”Seorang shadow pernah mendampingi anak tersebut pada terapi sebelumnya. Itu karena ABK cenderung sulit menerima orang yang baru dikenalnya,” ujar Marike Darmayanti, salah satu shadow yang kemarin bertugas di SD Lab UM.Sementara itu, pelaksanaan UASBN untuk pelajaran Bahasa Indonesia, bagi lima siswa SLB Eka Mandiri, Kota Batu, terhitung cukup sulit. Meskipun soal yang diberikan khusus siswa ABK, namun keluhan soal jenis pantun dan puisi membuat dua siswa tuna grahita bingung.
”Soal pantunnya sulit sekali, aku bingung mau jawab apa,” ungkap Viorin Martinus, siswa tuna grahita.Dwi Siswanto, siswa tuna rungu justru berpendapat lain, meskipun soalnya cukup sulit, tapi yang membuatnya jenuh dan lelah adalah harus duduk berlama-lama mengerjakan soal. Beberapa kali, Dwi tampak mengeluh dengan menggunakan bahasa isyarat kepada pegawas, sambil menunjuk kearah pinggangnya. Namun pengawas tetap membesarkan hati Dwi agar menyelesaikan semuanya sebelum istirahat. Hari pertama pelaksanaan UASBN kemarin diklaim oleh Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang berjalan lancar. Tercatat, hanya satu siswa dari SDN Klojen berhalangan hadir karena sakit.
”Sedang satu siswa lain, mengerjakan di rumah sakit karena operasi usus buntu,” ujar Drs Suwarjana, Kasi Kurikulum TK SD Dindik Malang, kemarin.
“Meskipun usia mereka melebihi dari usia siswa kelas VI SD, tapi mereka berhak menamatkan pendidikan,” ujarnya, Senin (11/5).Menurut Nanang, bobot persiapan dan materi ujian yang diberikan kepada mereka sama dengan siswa-siswi SD/MI pada umumnya, termasuk dua kali try out. Mereka dikarantina dalam satu sel selama sepekan sebelum ujian.
“Supaya mereka bisa fokus mempersiapkan diri, tidak terganggu teman-teman lain yang tidak ujian,” jelasnya.Empat murid dewasa itu menjalani ujian di salah satu ruang belajar, di bawah pengawasan dua orang petugas Lapas. Mereka mengenakan seragam SD, baju putih dan celana merah, tetapi celana yang dipakai celana panjang. Pada hari pertama UASBN kemarin (11/5), Aris Wahyudianto dan tiga kawannya mengikuti ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia, sejak pukul 08.00 WIB-10.00 WIB. Hari ini, (12/5) ini, mereka akan mengikuti ujian Matematika, dan lusa (13/5) mata pelajaran IPA. Aris, yang ditemui setelah ujian, mengaku bisa mengerjakan dengan baik. Menurutnya, materi soal yang diujikan tidak terlalu sulit dan sesuai dengan materi yang dipelajari.
“Untuk Matematika besok (hari ini/12/5) saya akan berusaha mempersiapkan diri lagi dengan banyak latihan soal,” kata Aris.Selama menjalani hukuman di Lapas Anak, Aris dan kawan-kawan belajar selama empat jam, mulai pukul 07.00 WIB. Waktu untuk berlatih soal menjadi terbatas, padahal pelajaran Matematika memerlukan latihan soal secara intensif.
"Seperti di SMK 4 Grafika Malang, banyak ijazah yang tidak diambil atau belum diambil, karena begitu Ujian Nasional (UN) selesai muridnya sudah dapat pekerjaan," kata Direktur Pembinaan SMK Departemen Pendidikan Nasional, Joko Sutrisno di Magelang, Sabtu (16/5).Joko mengatakan hal itu usai Penyerahan Prototipe Mobil Esemka, Produksi SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Magelang kepada Depdiknas. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Wakil Bupati Magelang, Zaenal Arifin kepada Joko. Ia mengatakan, suatu perusahaan tidak memasalahkan ijazah siswa lulusan SMK yang telah dipesan, untuk direkrut menjadi tenaga kerja di perusahaan itu. Ia mengatakan, relatif banyak perusahaan yang sudah ijon siswa SMK sebelum ia lulus ujian.
"Mereka ikut UN, belum mendapatkan ijazah, mereka pergi dan memang diterima, karena banyak perusahaan yang sudah ijon siswa sebelum lulus," katanya.Ia mengatakan, pihak Depdiknas tidak menargetkan angka tertentu atas kelulusan siswa SMK pada tahun 2009.
"Kita tidak menetapkan angka pasti karena hal itu juga sangat dipengaruhi kemampuan individu peserta didik, tetapi kita tentu ingin lebih baik dari tahun lalu," katanya.
”Mobil-mobil ini dirancang oleh siswa SMK. Seperti mobil Suv Esemka sudah diuji jalan di lereng-lereng Merapi di Magelang,” ucap Joko.'Suv Esemka' itu hasil rancangan dan rakitan dari SMK 2 Muhammadiyah Magelang. Sedangkan minibus 'Esemka.van' adalah hasil karya SMKN 6 Malang, sementara SMKN 10 Malang merakit mobil pick up. Selain itu, komputer yang digunakan selama lomba juga menggunakan komputer hasil rakitan SMK, yakni Zyrex Indonesia dan Nec SMK. Joko Sutrisno mengatakan, SMK kerap menggandeng perusahaan dalam meningkatkan mutu pendidikan peserta didik. Misalnya, guru-guru dilatih oleh industri merakit mobil atau komputer. Setelah pelatihan, guru-guru itu melatih keterampilan siswa merakit mobil dengan pengawasan dari industri di sekolah masing-masing. Produk yang dibuat oleh SMK dan bekerja sama dengan industri itu menggunakan merek bersama, SMK dan industri. Merek bersama yang sudah dibuat oleh SMK dan industri, seperti Nec SMK, Zyrex Indonesia, dan Auriga Esemka. ”Karya kreasi ini akan jadi warna Indonesia,” ucapnya. Rencananya, siswa SMK yang berhasil memenangkan kompetensi itu akan mewakili Indonesia dalam lomba ASEAN Skills Competition (ASC) dan World Skills Competition (WSC) mendatang. Menurut Kepala Sub Bidang Kegiatan Kesiswaan Pembinaan SMK, Susilowati, siswa SMK yang berlomba di kancah internasional memiliki daya saing. Buktinya, pada WSC 2005 SMK Indonesia menduduki peringkat ke-44 dari 50 negara peserta lomba. Peringkat itu naik di WSC 2007, Indonesia menduduki peringkat ke-21 dari 50 peserta lomba. Sedangkan pada ASC 2006 Indonesia meraih peringkat ke-2 dengan 6 emas dan ASC 2008 meraih peringkat ke-2 juga dengan 6 emas.
"Sebagai bahan bangunan pengelolaan limbah kotoran sapi tidak hanya memecahkan masalah polusi kotoran, melainkan juga mengurangi penggunaan bahan dari tanah liat yang tidak bisa dibarukan," ujar Yusuf Aria Putera, anggota tim.
"Karena merupakan sumber dari alam, proyek ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, jadi sesuai dengan semangat global warming," ujar Yusuf, mahasiswa program Magister Manajemen tahun 2008/2009.GSVC merupakan kompetisi perencanaan bisnis tingkat dunia yang diselenggarakan setiap tahun sejak 1999. Tergabung dalam tim bernama 'EcoFaeBrick', Yusuf dan kelima rekan mahasiswa Prasetiya Mulya itu mengalahkan sembilan finalis dari sekolah bisnis dan universitas-universitas peringkat dunia, seperti London Business School, ESSEC Business School Perancis, Columbia Business School, George Washington University School of Business, Tuck School of Business Dartmouth, Indian School of Business, Sasin Graduate Institute of Business Administration, SP Jain Institute of Management and Research, serta Haas School of Business.
"Ini tentu sangat berarti bukan hanya buat kami di Prasetiya, melainkan juga buat Indonesia karena, setelah sepuluh tahun kompetisi ini digelar, baru tahun inilah ada tim sekolah bisnis dari luar AS berhasil menjadi juara pertama," ujar Deddi Tedjakumara, anggota tim penasehat dari jajaran sivitas akademika Prasetiya Mulya.Masalah Menjadi Manfaat Bekerja sama dengan organisasi non-formal bernama 'Faerumnesia' pimpinan Syammahfuz Chazali, tim EcoFaeBrick memulai proyek penelitian bisnis ini pada Desember 2008 di daerah Godean dan Sayegan, Yogyakarta, yang memiliki komunitas peternak sapi.
"Teknologinya mereka yang punya dan secara teknis mereka yang menguasai, kami tinggal membuat perencanaan bisnisnya hingga bernilai ekonomi, sosial, serta lingkungan," tukas Erma Melina Sarahwati, anggota tim.Erma mengakui, selama ini teknologi pengelolaan limbah kotoran sapi memang sudah ada, yaitu sebagai pupuk.
"Hanya saja, mengolahnya sebagai bahan baku membuat bata merupakan keunggulan terbaru dari upaya masyarakat untuk memanfaatkan energi terbarukan yang memberi value cukup banyak," tambah Erma, yang berkaca pada pengalaman orangtuanya yang memiliki ternak sapi.Selain itu, alasan memilih limbah sapi pun merupakan tantangan yang cukup besar ketimbang kambing atau unggas.
"Permasalahan yang timbul dilihat dari volume limbahnya tentu pilihan pengelolaan ini sangat menarik karena volume limbah sapi per ekor mampu mencapai 20 kilogram per hari," kata Erma.Meningkahi pendapat Erma, Marselina pun memberikan komentarnya.
"Penciptaan value diawali dari masalah sehingga kami berpikir bagaimana masalah dari kotoran ini harus bisa menjadi manfaat," ujar Marselina.Marselina menuturkan, selain mengurangi dampak polusi, penggantian bahan bakar dari kayu menjadi biogas metana hasil kotoran sapi dalam proses pembakaran bata membuat biaya produksi menjadi lebih rendah. Selain itu, dengan menggunakan model bisnis yang melibatkan pengembang perumahan, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal melalui perserikatan koperasi lokal, tim EcoFaeBrick membangun permintaan pasar yang dapat dipertahankan untuk jangka panjang dan memberikan jaminan berupa keuntungan yang menarik bagi para investor. "Jadi impact sosial dan ekonominya terhadap masyarakat juga kena dan itulah yang kami rencanakan," tukas Marselina. Untuk itulah, tidak mengherankan jika beberapa utusan negara dari Meksiko, Argentina, dan India yang merupakan negara produsen besar sapi di dunia tertarik dengan business plan buatan tim EcoFaeBrick ini.
"Bahkan, untuk proyek ini sedang ada penjajakan dari UNDP," tambah Deddi Tedjakumara.
"Pendidikan anak usia dini atau PAUD itu penting mulai anak usia 0-6 tahun. Tetapi pemerintah daerah belum banyak yang mendukung karena tidak wajib seperti pendidikan dasar sembilan tahun," kata Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas, Hamid Muhammad, di Jakarta, Jumat (15/5).Program PAUD merupakan salah satu program prioritas Depdiknas. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD tahun 2008 baru mencapai 50,03 persen dari 29,8 juta anak. Target APK PAUD formal maupun PAUD nonformal akhir tahun ini adalah 53,9 persen, baik yang dikelola Depdiknas maupun Departemen Agama. Hamid mengatakan, upaya untuk meningkatkan akses pendidikan dilakukan terutama untuk perintisan PAUD di daerah terpencil, yaitu di 50 kabupaten dari 21 provinsi di Indonesia. Intinya, kata dia, pertama adalah untuk pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan-pelatihan pada pengelola PAUD di desa. Kedua, untuk para pembina di provinsi dan kabupaten. Ketiga, yang paling besar jumlahnya, adalah untuk pendirian lembaga PAUD. "Total 783 ribu anak yang bisa masuk program ini," katanya. Hamid mengungkapkan, kendala yang dihadapi untuk mendongkrak APK PAUD adalah tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya PAUD. Anggota masyarakat, kata dia, terutama di daerah pedesaan kurang peduli terhadap PAUD. "Bagi mereka yang penting masuk sekolah dasar. Padahal betapa pentingnya PAUD sebagai landasan wajib belajar sembilan tahun," katanya. Pemerintah, kata Hamid, juga memberikan perhatian terhadap tutor PAUD. Dia menjelaskan, tutor PAUD tidak seperti guru pada taman kanak-kanak yang diwajibkan berkualifikasi S1 ditambah pendidikan profesi. Tutor PAUD, kata dia, dilihat dari kompetensinya.
"Belum ada standardisasi kualifikasi, tetapi secara bertahap akan kita lakukan beberapa standardisasi. Sementara ini yang kita lakukan dengan pelatihan," katanya.Direktur PAUD Depdiknas Sudjarwo Singowidjojo menyampaikan, upaya lain yang ditempuh untuk meningkatkan APK PAUD adalah diversifikasi bentuk-bentuk PAUD, yakni kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan PAUD sejenis. Dia mencontohkan, melalui PAUD sejenis yaitu dengan membina di antaranya posyandu dan taman pendidikan Alquran.
"Kemudian dengan melakukan kemitraan dengan organisasi perempuan seperti Aisyiyah, Muslimat NU, dan PKK. Diharapkan, APK PAUD dapat mencapai 72,6 persen pada 2014," katanya.Hamid mengatakan, progam PAUD didukung melalui APBN dan grant dari pemerintah Belanda. Beberapa tahun belakangan ini, kata dia, program ini juga dibantu oleh UNICEF khususnya di kawasan Indonesia bagian timur.
"Oleh karena itu, pada tahun ini, bersamaan dengan program reguler, APBN, dan pihak donor, kita akan melakukan kegiatan publikasi dan sosialisasi berupa sejumlah lomba," katanya.
Peran Guru dalam Administrasi Kesiswaan
pakdesofa.blog.plasa.com
Siswa merupakan salah satu sub-sistem yang penting dalam sistem pengelolaan pendidikan di sekolah menengah. Administrasi kesiswaan dilakukan agar transformasi siswa menjadi lulusan yang dikehendaki oleh tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Administrasi kesiswaan merupakan proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa di suatu sekolah mulai dari perencanaan penerimaan siswa, pembinaan selama siswa berada di sekolah, sampai dengan siswa menamatkan pendidikannya melalui penciptaan suasana yang kondusif terhadap berlangsungnya proses belajar-mengajar yang efektif.
Tugas kepala sekolah dan para guru dalam hal ini adalah memberikan layanan kepada siswa, dengan memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Keterlibatan guru dalam administrasi kesiswaan tidak sebanyak keterlibatannya dalam mengajar. Dalam administrasi kesiswaan guru lebih banyak berperan secara tidak langsung. Beberapa peranan guru dalam administrasi kesiswaan itu di antaranya adalah:- Dalam penerimaan siswa, para guru dapat dilibatkan untuk ambil bagian. Di antara mereka dapat ditunjuk menjadi panitia penerimaan yang dapat melaksanakan tugas-tugas teknis mulai dari pencatatan penerimaan sampai dengan pelaporan pelaksanaan tugas.
- Dalam masa orientasi, tugas guru adalah membuat agar para siswa cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya. Peranan guru dalam hal ini sangat penting, karena andaikata terjadi salah langkah pada saat pertama, dapat berakibat kurang menguntungkan bagi jiwa anak untuk waktu-waktu selanjutnya.
- Untuk pengaturan kehadiran siswa di kelas, guru mempunyai andil yang besar juga. Guru diharapkan mampu mencatat/ merekam kehadiran ini meskipun dengan sederhana akan tetapi harus baik. Data kehadiran ini dimungkinkan untuk bahan
- pertimbangan penilaian terhadap siswa, misalnya sebagai pertimbangan dalam menetapkan kenaikan kelas.
- Dalam memotivasi siswa untuk senantiasi berprestasi tinggi, guru juga harus mampu menciptakan suasana yang mendukung hal tersebut. Hal ini dapat mereka lakukan misalnya dengan membuat grafik prestasi belajar siswa-siswanya.
Kegiatan dalam Administrasi Kesiswaan
Kegiatan dalam administrasi kesiswaan dapat dipilih menjadi tiga bagian besar, yaitu kegiatan penerimaan siswa, pembinaan siswa, dan penamatan program siswa di sekolah.1. Penerimaan SiswaPenerimaan siswa adalah proses pencatatan dan layanan kepada siswa yang baru masuk sekolah, setelah mereka memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh sekolah itu.
2. Pembinaan SiswaYang dimaksud dengan pembinaan siswa adalah pemberian layanan kepada siswa di suatu lembaga pendidikan, baik di dalam maupun di luar jam belajarnya di kelas. Pembinaan kepada siswa dilakukan dengan menciptakan kondisi atau membuat siswa sadar akan tugas-tugas belajarnya.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pembinaan siswa ini adalah:
- Orientasi siswa baru
- Pengaturan kehadiran siswa. Beberapa alat yang dapat digunakan untuk melakukan pencatatan kehadiran siswa ini di antaranya adalah:
- Papan absensi harian siswa (per kelas dan per sekolah)
- Buku absensi harian siswa
- Rekapitulasi absensi siswa.
- Pencatatan siswa di kelas. Dalam rangka pembinaan siswa perlu juga dilakukan pencatatan di kelas. Pencatatan itu dapat berupa: (a) daftar siswa di kelas, (b) grafik prestasi belajar, dan (c) daftar kegiatan siswa
- Pembinaan disiplin siswa. Disiplin merupakan suatu keadaan di mana sikap, penampilan, dan tingkah laku siswa sesuai dengan tatanan nilai, norma, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sekolah dan/kelas di mana mereka berada.
- Tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah merupakan salah satu alat yang dapat digunakan oleh kepala sekolah untuk melatih siswa agar dapat mempraktekkan disiplin di sekolah. Disiplin sekolah dapat diberikan antara lain melalui ganjaran dan hukuman. Ganjaran adalah sesuatu yang bersifat menyenangkan yang diterima siswa karena berprestasi, berusaha dengan balk atau bertingkah laku yang dapat dijadikan contoh bagi yang lam. sedangkan hukuman adalah sesuatu yang tidak menyenangkan yang harus diterima atau dikerjakan siswa karena mereka bertingkah laku yang tidak pada tempatnya (Carolyn, 1984). Kalau ganjaran diberikan untuk membuat siswa melakukan hal yang positif, maka hukuman diberikan dengan maksud agar siswa jera atau tidak ingin berbuat lagi hal-hal yang negatif. Hukuman diberikan kepada siswa dalam batas-batas yang wajar, sehingga misi mendidik siswa tercapai.
http://202.152.33.84/new/index.php/guruku/
Sekolah adalah institusi yang bertujuan menciptakan manusia yang kreatif, inovatif dan mandiri. Setelah menamatkan sekolah diharapkan anak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi atau mampu mandiri sesuai dengan kapasitasnya sebagai manusia terdidik dan terpelajar.
Dalam mencapai tujuan tersebut sekolah akan mengelola manajemennya ke dalam empat pokok bidang antara lain:Masing masing bidang itu biasanya akan didelegasikan oleh Kepala Sekolah (kepsek) kepada wakil kepala sekolah (wakepsek) urusan kurikulum, wakepsek urusan kesiswaan, wakepsek urusan sarana dan prasarana dan wakepsek urusan hubungan masyarakat.
Kegiatan akademik atau kurikulum seperti KBM, ujian sekolah merupakan kegiatan inti yang harus diutamakan, untuk mendukung kegiatan tersebut bidang kesiswaan juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena paradigma pendidikan sekarang ini sudah mulai berubah. Dahulu penilaian aspek kognitif sangat dominan namun sekarang penilaian ditambah dengan aspek apektif (sikap) dan yang terpenting juga adalah aspek psikomotor (ketrampilan atau kompetensi).
Bahkan kalau kita mau jujur dalam kehidupan di masyarakat, kebanyakan faktor sikap dan keterampilan juga ikut memberi andil seseorang bisa bertahan dan eksis dalam berkarier dan mengejar kehidupan ini.
Di negara maju kegiatan di sekolah yang paling dominan adalah kegiatan yang menyangkut psikomotor atau keterampilan. Kegiatan ini terangkum dalam kegiatan kesiswaan di bidang ekstra kelas yang banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya.
Di Jepang misalnya perbandingan kegiatan akademik dengan kegiatan kesiswaan adalah 70 persen dibanding 30 persen ini menurut Dirjen Dikluspora Jakarta. Karena itulah kegiatan yang menyangkut kesiswaan harus dikelola dengan benar dan terarah sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Dirjen Pendidikan Dasar.dan Menengah.
Menurut Drs. Amir Daien..IK. M.Pd. 1989 : 89. Pengelolaan Kesiswaan ialah keseluruhan proses penyelenggaraan usaha kerja sama dalam bidang kesiswaan dalam rangka mencapai tujuan tujuan pendidikan di sekolah. Sedangkan tujuan Pengelolaan Kesiswaan adalah mengatur kegiatan kegiatan dalam bidang kesiswaan agar proses belajar mengajar di sekolah berjalan dengan lancar, tertib dan tenteram, tercapai apa yang menjadi tujuan tujuan pendidikan di sekolah.
Dalam pelaksanaan dari kegiatan pengelolaan kesiswaan mencakup kegiatan kegiatan antara lain :
1. Perencanaan Kesiswaan
Perencanaan kesiswaan berhubungan dengan program kesiswaan yang akan dilaksanakan dalam satu semester atau satu tahun pelajaran baik itu berhubungan dengan kegiatan ekstra kurikuler atau kokurikuler.
2. Penerimaan Siswa Baru (PSB)
Dalam kegiatan Penerimaan Siswa baru menyangkut masalah:
a. Kebijakan Penerimaan Siswa Baru
b. Jumlah Penerimaan Siswa Baru
c. Sistem Penerimaan Siswa baru
d. Orientasi Siswa Baru.
3. Kehadiran siswa di sekolah
Masalah kehadiran siswa di sekolah bukan hanya secara fisik siswa melainkan keterlibatan siswa dalam kegiatan kegiatan sekolah seperti yang disebutkan dalam ‘Dictionari of Education’ (Good Carter). Kehadiran siswa di sekolah biasa disebut dengan istilah presensi siswa yang menyangkut dua hal yaitu masalah kehadiran siswa di sekolah (school attendece) dan ketidakhadiran siswa di sekolah (non school attendence).
4. Pembinaan Disiplin Siswa
Masalah disiplin merupakan suatu masalah yang sangat penting di sekolah. Disiplin sekolah sering dijadikan ukuran untuk keberhasilan kepala sekolah dalam memimpin sekolahnya. Ada 3 teknik pemberian disiplin di sekolah yaitu :
a. Teknik pengendalian dari luar (external control technique)
b. Teknik pengendalian dari dalam (inner control technique)
c. Teknik pengendalian kooferatif (cooferatif control technique).
5. Kenaikan kelas dan penjurusan.
Persyaratan persyaratan kenaikan kelas dan penentuan jurusan program telah diatur secara terinci dalam kurikulum SMA baik itu kenaikan kelas atau kelulusan siswa.
6. Perpindahan Siswa
Perpindahan siswa sering disebut mutasi siswa. Perpindahan ini ada dua macam yaitu :
- Perpindahan siswa dari suatu sekolah ke sekolah lain yang sejenis.
- Perpindahan siswa dari suatu jenis program ke jenis program lain.
7. Kelulusan
Proses kelulusan adalah administrasi siswa yang paling akhir. Kelulusan adalah pernyataan dari sekolah sebagai suatu lembaga tentang telah diselesainya program pendidikan di suatu sekolah dan berhasil dalam UAN dan UAS maka kepadanya diberikan STTB atau ijazah.
8. Kegiatan Ekstra Kelas
Kegiatan Ekstra kelas adalah kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran biasa. Kegiatan ini dilakukan sore hari bagi sekolah yang masuk pagi hari, untuk sekolah yang masuk sore dilakukan pada pagi hari.
Kegiatan ini meliputi ekstra kurikuler seperti olahraga, kesenian, pramuka, dan ketrampilan lain, dan kokurikuler seperti mengerjakan PR, mempelajari buku buku, latiham mata pelajaran olimpiade,latihan debat bahasa inggris, diskusi kelompok dan lain sebagainya.
9. OSIS
Organisasi Kesiswaaan merupakan wadah atau arena tempat kehidupan siswa sebagai calon anggota masyarakat. Pada organisasi ini siswa mendapatkan pembelajaran dan pengalaman dalam memimpin, bekerja sama, demokrasi, toleransi, dan mengendalikan organisasi.
Dengan sinergisnya antara kegiatan akdemik , kegiatan kesiswaan dan dukungan sarana prasarana yang ada di sekolah akan melahirkan anak anak yang tidak hanya hebat pada bidang akademis (keilmuan) tetapi juga akan kreatif, inovatif bahkan dapat mandiri dengan ketrampilan ketrampilan yang dipunyainya.
Sehingga sekolah benar benar menjadi tempat menempa anak anak yang mampu berkompetisi dengan cerdas dan sehat serta tujuan pendidikan yang ingin menciptakan manusia seutuhnya mudah mudahan akan terwujud sesuai dengan amanah UUD 1945 dan dasar negara yaitu Pancasila.
Read More......"Untuk itu, orangtua dan profesional perlu menyadari pentingnya penanganan dini secara terpadu, yakni dengan melibatkan penanganan di bidang medis, psikologis, dan pendidikan," kata Adriana.
* pengajaran bahasa * pembimbing siswa internasional khusus * bantuan pendaftaran dan pengurusan visa * program penyambutan di saat kedatangan dan program pengenalan * layanan kesehatan, konseling, akomodasi dan penempatan kerjaPengakuan/akreditasi/legislasi kualifikasi Siswa internasional di Australia dan orang tua mereka memperoleh layanan dan perlindungan keuangan yang tak tertandingi. Penyedia layanan pendidikan harus terdaftar di Pemerintah Australia dan memenuhi ketentuan pendaftaran khusus dalam menyediakan program studi bagi siswa internasional di Australia. Lembaga pendidikan negeri dan swasta harus memenuhi standar mutu dan praktik etika yang tinggi yang mencakup masalah-masalah seperti kurikulum, kualifikasi staf pengajar dan fasilitas. Australia dipandang sebagai tolok ukur bagi jaminan mutu dalam pendidikan internasional. Pedoman Perilaku: Undang-undang Pemerintah Australia mengatur pedoman perilaku yang konsisten dan dapat ditegakkan secara hukum. Banyak lembaga pendidikan yang menjadi anggota dari berbagai badan profesional yang memiliki pedoman perilaku masing-masing. Misalnya, lembaga-lembaga pendidikan di Australia Barat yang merupakan bagian dari konsorsium Perth Education City (PEC) menerapkan pedoman perilaku mereka sendiri. Pedoman ini menetapkan standar bagi layanan akademik dan bantuan bagi siswa internasional. PEC mewakili mayoritas lembaga pendidikan terkemuka di Australia Barat dan memberikan kontak pertama serta informasi kepada calon siswa internasional. Perlindungan siswa Pemerintah Australia, melalui Undang-Undang Layanan Pendidikan untuk Siswa Luar Negeri 2000 (Education Services for Overseas Students (ESOS) Act 2000) mengatur layanan pendidikan dan pelatihan bagi siswa internasional. Undang-undang ini melindungi kepentingan semua orang yang memiliki visa siswa, dengan memberikan jaminan pengajaran dan keuangan melalui pendekatan pendaftaran penyedia layanan pendidikan di seluruh Australia.
- Masalah penerimaan siswa baru - Masalah kemajuan belajar dan evaluasi belajar - Masalah bimbingan
NISN terdiri atas 10 digit angka (aaaxxxyyyy)aaa : Tiga digit pertama berisi tahun lahirxxx : Tiga digit pengelompokan, danyyyy : Empat digit nomor urut dalam pengelompokan xxxPertimbangan dari penggunaan format kodifikasi adalah sebagai berikut :
NISN terdiri dari seluruhnya angka dengan jumlah digit seminimal mungkin agar mudah dihafal atau dituliskan untuk keperluan administrasi sekolah, misal ujian nasional atau pendaftaran sekolah.
NISN tidak tergantung pada informasi atau data eksternal yang bisa berubah atau berganti sehingga format ini menjamin akan tetap dalam jangka waktu panjang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa standarisasi yang berlaku di Indonesia masih sangat mungkin untuk berubah. Karena itu, satu-satunya informasi eksternal yang masuk dalam format NISN adalah tahun kelahiran siswa karena informasi ini (pasti) tetap dan tidak bergantung pada informasi di luar siswa itu sendiri.
Pemilihan tahun kelahiran siswa adalah salah satu cara untuk mengefisienkan jumlah digit dalam NISN. Dengan asumsi pertumbuhan penduduk sebesar 1,49% maka hanya dibutuhkan 7 digit (maksimal 9.999.999) setelah informasi tahun kelahiran. Kemungkinan berkembang lebih dari 7 digit adalah sangat kecil karena pertumbuhan penduduk (di Indonesia) cenderung menurun dari tahun ke tahun.
Jumlah digit urutan kode 4 digit terakhir bisa berubah (menjadi lebih atau kurang dari 4 digit), walaupun kemungkinan untuk itu sangat kecil.Adapun kelebihan dari format kodifikasi :
Dengan kode yang isinya sangat umum dan bersifat nasional, NISN bisa digunakan siswa selama dia bersekolah, di jenjang apa pun, di kota/kabupaten mana pun, mulai TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, bahkan hingga perguruan tinggi. Bahkan, NISN bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan instansi lain di luar Dinas Pendidikan Nasional.
Karena karakter yang digunakan seluruhnya berupa angka dan jumlahnya yang relatif sedikit, proses administrasi sekolah bisa menggunakan NISN dengan mudah. Misalnya dalam pengisian lembar jawaban komputer, pengajuan data BOS, nomor peserta Ujian Nasional, dll.
Adanya pengelompokan memungkinkan adanya kode-kode khusus untuk keperluan khusus tanpa mengubah struktur dasar dari format NISN. Misalnya untuk kode “999″ untuk siswa yang masuk SD di luar negeri atau kode-kode khusus lainnya.Konsekuensi format kodifikasi: Karena proposal format NISN ini cenderung bersifat kode identitas tanpa makna (kecuali tahun kelahiran siswa) maka jumlah karakter yang dibutuhkan relatif sedikit. Namun demikian, format ini mempunyai konsekuensi di satu sisi, antara lain:
Untuk mengetahui informasi lebih rinci tentang siswa (pemilik NISN) dibutuhkan sebuah sistem penyedia informasi yang bersifat publik, mudah diakses, dan selalu up-to-date.
Pemberian NISN pada siswa tidak bisa dilakukan secara manual, melainkan harus disediakan oleh sebuah sistem manajemen yang terpadu dan terintegrasi secara nasional untuk menghindari kesalahan pemberian NISN.Berdasarkan konsekuensi di atas maka diperlukan suatu Sistem Informasi untuk Manajemen NISN Departemen Pendidikan Nasional yang terintegerasi secara luas dan memanfaatkan teknologi informasi dan internet serta intranet untuk transmisi data. Sistem ini akan bertugas untuk memberikan informasi yang rinci serta sebagai sarana entry data agar informasi yang diberikan adalah informasi yang valid. Informasi yang diberikan juga diharapkan merupakan informasi yang up-to-date agar tidak memberikan informasi yang salah kepada orang atau lembaga yang memerlukan. Namun demikian sebaiknya sistem harus mampu menjaga keamanannya agar dapat menjaga kerahasiaan informasi yang didalamnya sehingga hanya orang yang berhak dan memiliki wewenang saja yang mampu mengaksesnya. Yang beberapa waktu dipermasalahkan pada sistem ini (http://nisn.diknas.go.id) adalah data didalamnya yang dapat diakses oleh siapa saja. Hal ini pertama kali saya sadari sudah lama, yaitu saat saya dengan iseng melakukan googling dengan keyword nama adik saya. Kemudian google membawa saya pada file bertipe *xls yang berisi NISN, Nama, Tanggal lahir dan juga Alamat lengkap, serta informasi asal SMP maupun SMA. Selain itu saya juga menemukan bahwa nilai ujian nasional juga dapat dilihat pada situs tersebut. Hal tersebut sebenarnya merupakan data yang menurut saya privat terutama nilai dan alamat. Hal itu tidak seharusnya dapat diakses oleh orang yang tidak berhak. Namun demikian saat ini pemerintah telah memperbaiki sistem ini sehingga orang yang tidak berhak tidak dapat mendownload file database NISN yang bertipe *xls tadi. Walaupun begitu sisa-sisa kecerobohan tersebut masih tersisa di cache google. Sehingga kita masih melihat informasi database tersebut melalui tembolok pada google. Sebaiknya pemerintah memberi tahu google agar mau menghapus cache yang berisi database NISN tersebut. Salah satu fasilitas lain dari nisn jardiknas ini adalah pemberian status lulus secara otomatis pada siswa kelas 6,9, dan 12 serta pemberian status otomatis naik kelas pada siswa selain kelas tersebut. Hal ini sebenarnya cukup bagus, namun memerlukan kerja sama dengan seluruh sekolah yang ada di Indonesia untuk mengupdatenya. Padahal tidak semua daerah memiliki koneksi internet untuk melakukan update terhadap data siswanya. Sehingga fasilitas “otomatis naik status” ini bisa menimbulkan masalah. Misalkan saja akan diberikan bantuan kepada siswa kelas 6 sd. Kemudian mereka mengambil data dari status siswa pada sistem jardiknas tersebut. Tentunya sistem ini tidak memberikan informasi yang akurat sehingga bisa menimbulkan kesalahan dalam mengestimasi besarnya bantuan. Bisa kelebihan bisa juga kekurangan. Dari sekian uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ide penggunaan NISN sebenarnya sangat bagus berkaitan dengan pendataan dan manajemen data siswa. Namun pemerintah perlu memperbaiki sistemnya dari berbagai celah keamanan dan rajin melakukan update bila terjadi perubahan pada data siswa. Sehingga sistem ini mampu memberikan data yang up-to-date dan representatif bagi pihak-pihak yang berwenang dan berhak.
Prinsip Dasar Manajemen Kesiswaan
www.akhmadsudarajat.wordpress.com Dalam manajemen kesiswaan terdapat prinsip-prinsip dasar, yaitu :siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka;
kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal;
siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan;dan
pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif, dan psikomotor.
