Tampilkan postingan dengan label manajemen sarana dan prasarana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen sarana dan prasarana. Tampilkan semua postingan

Sarana dan Prasarana
Tunjang Kualitas Pendidikan
www.sinarharapan.co.id
Jakarta – Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia selain tergantung kepada kualitas guru juga harus ditunjang dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
Tapi sayangnya, hingga sekarang ini, sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki sebagian besar sekolah di Indonesia masih kurang memadai seperti fasiltas laboratorium dan sebagainya. Sarana dan prasarana ini padahal sangat vital dalam kegiatan proses belajar dan mengajar.
“Sebut saja peralatan laboratorium yang di sebagian daerah masih sangat minim dimiliki sekolah, apalagi kalau SMA itu milik swasta sungguh sangat jarang yang memiliki sarana dan prasarana seperti laboratorium yang memadai. Peralatan laboratorium sudah menjadi suatu keharusan bagi siswa SMA untuk memperdalam ilmunya,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Sarana Pendidikan Indonesia (APSPI) Iskandar Zulkarnain pada Deklarasi APSPI, di Jakarta, Rabu (22/8).
Dia juga menambahkan sebagian besar alat peraga di sekolah-sekolah masih kurang terkontrol baik dari segi mutu, harga dan sikap pribadi para pengusaha sarana pendidikan. “APSPI mau membuktikan bahwa pengusaha bisa diatur dengan segala masalahnya, sebab kami merasakan bahwa pendidikan merupakan inti dari kehidupan manusia dan pendidikan pula merupakan inti dari sebuah pembangunan negara,” lanjutnya.
Iskandar mengatakan saat ini hampir 95 persen alat peraga pendidikan diproduksi di dalam negeri. Mengenai harga, dia mengatakan pihaknya tidak ingin terjadi perang harga diantara para anggotanya.
“Asosiasi ini sangat concern, ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Asosiasi ini juga bukan merupakan tempat kita bertender atau monopoli. Kita hanya ingin menyamakan visi, mutu dan harga,” katanya. Oleh sebab itu, salah satu tujuan dari APSPI ini adalah melindungi kepentingan anggota dan mencegah timbulnya persaingan usaha yang tidak sehat dalam dunia usaha sarana pendidikan.
Sementara itu, Direktur HAKI Ansori Silungan mengatakan alat peraga pendidikan merupakan salah satu yang dilindungi oleh hak cipta. Alat peraga merupakan salah satu unit kekayaan intelektual. Menurutnya, alat peraga dengan kreasi baru dapat memperjelas tujuan dari ilmu. Namun alat peraga tersebut juga harus yang kreatif.
Dia mengatakan, hingga saat ini ada 1000 alat peraga yang sudah diberikan hak cipta. “Sifat hak cipta ini dimohonkan untuk mendapatkan mereknya dan pendaftaran dilakukan hanya untuk mencatat saja. Dengan hak cipta tersebut diharapkan akan muncul kreasi-kreasi baru untuk alat peraga di bidang pendidikan,” ujarnya.

Read More......

ITS Bangun Pusat Robotika
Senin, 11 Mei 2009 | 11:48 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Kris R Mada
SURABAYA, KOMPAS.com — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tengah membangun Pusat Robotika. Pusat riset itu dibangun dengan dana Rp 50 miliar.
Rektor ITS Priyo Suprobo mengatakan, seluruh dana bersumber dari APBN. Dana itu antara lain akan dipakai untuk membuat tujuh laboratorium. "Akan ada beberapa laboratorium untuk pengembangan robotika," ujarnya di Surabaya, Senin (11/5).
Dengan fasilitas itu, ITS ingin mewujudkan target menjadi pusat robotika di Indonesia. Dengan keberhasilan ITS sebagai juara di berbagai kompetisi robotika, optimalisasi fasilitas itu bisa dilakukan.
"Salah satu gambaran kami adalah agar ada pengembangan sosio teknologi bidang robotika. Di Jepang, hal ini diwujudkan lewat robot Asimo yang bentuknya menarik. Kalau bentuknya kaku, orang mungkin tidak tertarik," ujarnya.

Read More......

Menangi Imagine Cup,
Tim Big Bang Dikirim Microsoft ke Mesir
Senin, 11 Mei 2009 | 17:32 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — PT Microsoft Indonesia kembali gelar Worldwide Imagine Cup untuk merangsang tumbuhnya bibit-bibit baru yang handal di bidang teknologi. Sebuah kompetisi pelajar tingkat global yang bertujuan memberikan inspirasi untuk mengatasi tantangan dunia terkini dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi.
Tahun ini, Imagine Cup mengusung tema "Solving the World's Toughtest Problem". Hal itu erat kaitannya dengan United Nation's Eight Millenium Development Goals.
"Adapun tujuan tersebut adalah menggarisbawahi tantangan terberat yang dihadapi oleh dunia saat ini, seperti mengurangi kelaparan, kemiskinan, bahaya AIDS, serta meningkatkan pendidikan, kesehatan ibu hamil, dan keberlanjutan lingkungan hidup," ungkap Tony Seno Hartono, Staf Bidang Teknologi Nasional PT Microsoft Indonesia, sesaat seusai acara briefing media "The Future is Here," di Jakarta, Senin (11/5).
Tony menerangkan, gelaran kali ini menyajikan delapan kategori yang akan dilombakan di Imagine Cup. Kategori tersebut adalah Embedded Development, Gamed Development, Robotics and Algorithm, IT Challenge, Mash Up, Photography, Short Film, dan Design.
"Sedangkan untuk seleksi tingkat nasional di masing-masing negara, Microsoft memberikan kepercayaan berupa dua dari delapan kategori yang ada. Untuk di Indonesia, kategori yang diseleksi adalah Software Design dan Embedded Development," kata Tony.
"Pada Imagine Cup kali ini, Microsoft hanya akan menyeleksi pemenang dari kategori Software Design, sedangkan pemenang kategori Embedded Development akan ditentukan di tingkat regional Asia Pasifik," imbuhnya.
Dewan juri yang terdiri dari Steve Ballmer, CEO Microsoft Corporations, dan beberapa ahli teknologi lainnya melakukan penilaian terhadap para peserta. Akhirnya, yang keluar menjadi pemenang adalah tim Big Bang. Program MOSES (Malaria Observation System and Endemic Surviliance) yang mereka ciptakan dipandang oleh juri sebagai program yang dapat memecahkan permasalahan terberat saat ini.
Sebagai hadiah, Big Bang mendapat uang tunai sebesar Rp 15 juta. Selain itu, tim yang diawaki oleh David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas, dan Samuel Simon itu akan mengikuti kompetisi tingkat global di Kota Kairo, Mesir, pada Juli mendatang.

Read More......

Depag Bakal Bangunan Madrasah Bertaraf Internasional
Selasa, 12 Mei 2009 | 04:21 WIB
MAKASSAR, KOMPAS.com - Departemen Agama (Depag) RI tahun 2009 ini akan mulai membangun madrasah bertaraf internasional di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kepastian pembangunan megaproyek sektor pendidikan menurut Asisisten III Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel, Basra Hafid di Makassar, Senin (11/5), tinggal menunggu persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel mengenai pengalihan tanah kepada Kanwil Depag. "Pembangunan madrasah ini memerlukan tanah seluas 12 ha. Pemprov telah menyediakan lahan seluas tujuh hektar, sisa disetujui oleh DPRD untuk diserahkan pada Kanwil Depag," ujarnya saat memberikan penjelasan dalam rapat dengan anggota DPRD Sulsel.
Basra mengatakan, meski lahan baru siap tujuh hektar, pembangunan sudah bisa dilakukan sambil menunggu pembebasan lahan seluas lima hektar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros.
Hanya saja, surat dari Menteri Agama 16 April tentang perintah kepada Gubernur Sulsel untuk menyelesaikan persoalan tanah, baru diterima DPRD Sulsel 7 Mei, sementara hasilnya harus dilaporkan ke Menteri tanggal 16 Mei. "Surat ini sangat terlambat. Pansus (panitia khusus) paling cepat menyelesaikan pengalihan itu selama tujuh hari. Sementara hasilnya mesti diserahkan 16 Mei," ujar pimpinan sidang, yang juga ketua komisi IV DPRD Sulsel, Zainal Abidin.
Meski demikian, DPRD Sulsel tidak ingin melepaskan proyek yang baru dua di Indonesia ke daerah lain dengan tetap membuat komisi untuk memproses pengalihan tanah tersebut. "Arahnya DPRD Sulsel sangat mendukung. Kami secepatnya akan melapor ke Menteri bahwa DPRD Sulsel telah membentuk komisi dan telah siap untuk itu," kata anggota Komisi IV DPRD Sulsel, Rahman AT
Dia juga memperingatkan pada Pemprov kalau sebelum pembangunan dimulai, Pansus harus melakukan studi banding pada sekolah Internasional yang ada di luar atau dalam negeri.
Sementara Pjs Kepala Biro Perlengkapan Sulsel, Mustari Sabo memperjelas, Pemprov hanya sanggup menyediakan lahan seluas tujuh hektar, karenanya ia meminta pada Pemda Maros segera mencarikan solusi untuk menyiapkan kekurangan lahan.

Read More......

Kelas Ambruk, Siswa Ujian di Rumah Kepala Desa
Selasa, 12 Mei 2009 | 16:41 WIB
BLITAR, KOMPAS.com — Akibat ruang kelas ambruk, Jumat (8/5) lalu, sebanyak 29 siswa SDN Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, harus diungsikan. Para siswa tersebut lalu mengikuti UASBN di rumah Fathurrahman, seorang kepala desa setempat, Senin (11/5).
“Alhamdulillah Unas (UASBN) berlangsung lancar meski tidak di ruang kelas biasanya,” ujar Supriyanto, Kepala SDN Clarak, Senin (11/5) siang kemarin.
Ketika mengikuti ujian, para siswa mendapat kunjungan dari beberapa pejabat pemerintah kabupaten (pemkab) yang dipimpin oleh Sekretaris Kabupaten Probolinggo Kusnadi.
“Kami sudah mengangarkan tiga ruang kelas baru untuk sekolah ini. Makanya, kepala dinas PU juga ikut kemari sekaligus menyurvei lokasi,” jelas Kusnadi.“Alhamdulillah Unas (UASBN) berlangsung lancar meski tidak di ruang kelas biasanya,” ujar Supriyanto, Kepala SDN Clarak, Senin (11/5) siang kemarin.
Ketika mengikuti ujian, para siswa mendapat kunjungan dari beberapa pejabat pemerintah kabupaten (pemkab) yang dipimpin oleh Sekretaris Kabupaten Probolinggo Kusnadi.
“Kami sudah mengangarkan tiga ruang kelas baru untuk sekolah ini. Makanya, kepala dinas PU juga ikut kemari sekaligus menyurvei lokasi,” jelas Kusnadi.

Read More......

Sarana dan Prasarana
Tunjang Kualitas Pendidikan
www.sinarharapan.co.id
Jakarta – Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia selain tergantung kepada kualitas guru juga harus ditunjang dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
Tapi sayangnya, hingga sekarang ini, sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki sebagian besar sekolah di Indonesia masih kurang memadai seperti fasiltas laboratorium dan sebagainya. Sarana dan prasarana ini padahal sangat vital dalam kegiatan proses belajar dan mengajar.
“Sebut saja peralatan laboratorium yang di sebagian daerah masih sangat minim dimiliki sekolah, apalagi kalau SMA itu milik swasta sungguh sangat jarang yang memiliki sarana dan prasarana seperti laboratorium yang memadai. Peralatan laboratorium sudah menjadi suatu keharusan bagi siswa SMA untuk memperdalam ilmunya,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Sarana Pendidikan Indonesia (APSPI) Iskandar Zulkarnain pada Deklarasi APSPI, di Jakarta, Rabu (22/8).
Dia juga menambahkan sebagian besar alat peraga di sekolah-sekolah masih kurang terkontrol baik dari segi mutu, harga dan sikap pribadi para pengusaha sarana pendidikan. “APSPI mau membuktikan bahwa pengusaha bisa diatur dengan segala masalahnya, sebab kami merasakan bahwa pendidikan merupakan inti dari kehidupan manusia dan pendidikan pula merupakan inti dari sebuah pembangunan negara,” lanjutnya.
Iskandar mengatakan saat ini hampir 95 persen alat peraga pendidikan diproduksi di dalam negeri. Mengenai harga, dia mengatakan pihaknya tidak ingin terjadi perang harga diantara para anggotanya.
“Asosiasi ini sangat concern, ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Asosiasi ini juga bukan merupakan tempat kita bertender atau monopoli. Kita hanya ingin menyamakan visi, mutu dan harga,” katanya.
Oleh sebab itu, salah satu tujuan dari APSPI ini adalah melindungi kepentingan anggota dan mencegah timbulnya persaingan usaha yang tidak sehat dalam dunia usaha sarana pendidikan. Sementara itu, Direktur HAKI Ansori Silungan mengatakan alat peraga pendidikan merupakan salah satu yang dilindungi oleh hak cipta. Alat peraga merupakan salah satu unit kekayaan intelektual. Menurutnya, alat peraga dengan kreasi baru dapat memperjelas tujuan dari ilmu. Namun alat peraga tersebut juga harus yang kreatif.
Dia mengatakan, hingga saat ini ada 1000 alat peraga yang sudah diberikan hak cipta. “Sifat hak cipta ini dimohonkan untuk mendapatkan mereknya dan pendaftaran dilakukan hanya untuk mencatat saja. Dengan hak cipta tersebut diharapkan akan muncul kreasi-kreasi baru untuk alat peraga di bidang pendidikan,” ujarnya.

Read More......

Pengembangan Sarana dan Prasarana
Pendidikan Jasmani
pojokpenjas.blogspot.com
Istilah sarana mengandung arti sesuatu yang dapat digunakan atau dapat dimanfaatkan. Sarana pendidikan jasmani ialah segala sesuatu yang dapat digunakan atau dimanfaatkan di dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Termasuk didalamnya peralatan (aparatus), yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh siswa untuk melakukan kegiatan diatasnya, didalam / diantaranya atau dibawahnya. Misalnya : peti lompat (bertumpu diatasnya), bangku swedia (untuk merangkak, meniti, melompati, dan sebagainya),gelang-gelang, tiang dan matras lompat tinggi dan sebagainya. Demikian juga dengan perlengkapan (device), yaitu segala sesuatu yang melengkapi kebutuhan prasarana. Misalnya ; tanda bendera, garis pembatas, atau segala sesuatu yang dapat dimanipulasi dengan tangan atau kaki misalnya raket, bola, pemukul, dan sebagainya.
Seperti halnya prasarana pendidikan jasmani, maka sarana penjas juga bisa mewarnai pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani disekolah-sekolah. Sebelum mempelajari lebih lanjut tulisan ini, coba anda jawab sendiri beberapa pertanyaan dibawah ini :
Dengan sarana yang dimiliki oleh sekolah anda, apakah anda bisa melakukan aktivitas pendidikan jasmani secara optimal ? Apakah sebagaian besar kecabangan olahraga yang diprogramkan bisa berjalan sesuai dengan rencana yang anda susun ? Apakah siswa bisa beraktivitas fisik secara optimal ? Apakah jumlah atau mutu sarana yang dimiliki oleh sekolah anda bisa ditingkatkan ?
Sungguh berbahagialah bagi mereka (guru pendidikan jasmani) yang disekolahnya memiliki fasilitas pendidikan jasmani yang memadai karena bisa melibatkan berbagai pihak untuk menunjang kelancaran pembelajaran pendidikan jasmani. Namun demikian, banyak sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas pendidikan jasmani yang layak dan memadai bahkan sering kali harus mencari lahan kosong atau berdesak-desakan dengan beberapa sekolah lain untuk bisa menggunakan lahan yang ada. Belum lagi sarana yang mereka miliki juga sangat terbatas.
Oleh karena itu, jangan heran bila pelaksanaan pendidikan jasmani dari hari ke hari hanya begitu-begitu saja dan acapkali membosankan para siswa sendiri. Ujung-ujungnya bisa ada tanggapan bahwa pendidikan jasmani dianggap tidak begitu perlu.
Salah satu kendala kurang lancarnya pembelajaran pendidikan jasmani disekolah-sekolah, adalah kurang memadainya sarana yang dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut. Disamping itu ketergantungan para guru penjas pada sarana yang standar serta pendekatan pembelajaran pada penyajian teknik-teknik dasar juga standar sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Kedua hal tersebut menyebabkan pola pembelajaran yang kurang variatif dan cenderung membosankan siswa peserta didik.
Sebenarnya untuk pembelajaran pendidikan jasmani, seorang guru dapat berbuat banyak dan lebih lelusa dalam menggunakan, memanfaatkan , mengembangkan atau bahkan memodifikasi sarana yang akan digunakan. Dalam situasi dan kondisi sekolah-sekolah dewasa ini, dimana ruang gerak para siswa untuk beraktivitas fisik semakin berkurang, apalagi untuk melakukan kegiatan olahraga kecabangan dengan pendekatan konvensional, kiranya pemberian gerak dasar umum maupun gerak dasar dominan harus banyak dilakukan.
Dengan upaya tersebut diharapkan siswa peserta didik akan memiliki pengalaman gerak yang banyak serta beragam, sehingga ia pun akan menjadi anak yang kaya gerak dan bisa membina serta menumbuhkan konsep-konsep gerak yang variatif. Pengembangan sarana pendidikan jasmani artinya melengkapi yang sudah ada dengan cara mengadakan, memperbanyak dan membuat alat-alat yang sederhana atau memodifikasi. Tujuannya adalah untuk memberdayakan anak, agar bisa lebih banyak bergerak dalam situasi yang menarik dan gembira tanpa kehilangan esensi pendidikan jasmani itu sendiri.
Manakala mereka sadari bahwa anak didik kita perlu dibekali dengan berbagai gerak dasar umum maupun gerak dasar dominan dari setiap kecabangan olahraga, maka alat apapun bisa dimanfaatkan yang terpenting adalah kegiatan tersebut pada akhirnya tidak akan menghilangkan makna serta esensi pendidikan jasmani antara lain :
Siswa tetap memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani. Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dlam berpartisipasi. Karena selalu difasilitasi dengan pembelajaran pola gerak dasar umum yang banyak dan berkali-kali dilakukan, maka pada akhirnya diharapkan siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.

Read More......

Penuhi Dulu Sarana-Prasarana
Perbaikan Ruang Kelas Butuh Rp. 13,75 Triliun
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0712/24/humaniora/4097436.htm
Jakarta, Kompas - Dengan adanya standar nasional, pemerintah dituntut menambah alokasi dana agar standar ketentuan sarana dan prasarana minimal untuk SD, SMP, SMA, atau sederajat terpenuhi. Penyediaan sarana dan prasarana tersebut tidak berhenti pada tersedianya gedung sekolah yang layak.
"Adanya standar ini seharusnya memacu pemerintah untuk serius menyediakan anggaran pendidikan minimal 20 persen di APBN," kata Wakil Koordinator Education Forum Yanti Sriyulianti, Sabtu (22/12) di Jakarta.
Suyanto, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, mengatakan, pemenuhan penyediaan pendidikan yang berkualitas bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat saja karena sekarang sudah berlaku otonomi daerah.
Sementara Yanti menegaskan, masyarakat bisa menuntut pemerintah untuk memenuhi standar minimal soal lahan, gedung, jumlah siswa, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain.
Sekolah di daerah pedesaan dan terpencil kondisinya masih jauh dari standar minimum. Sebuah SD di Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, misalnya, satu kelas diisi 84 siswa. Halaman sekolahnya sempit, tidak ada jamban, perpustakaan, dan laboratorium. Guru berkantor di lorong kelas. Dari data tahun 2003, jumlah ruang kelas rusak di tingkat sekolah dasar ada 531.186 ruang. Tahun 2008 tersisa 203.052 ruang. Perbaikannya butuh dana sekitar Rp 13,75 triliun.
Standar nasional sarana dan prasarana pendidikan di tingkat dasar dan menengah dimuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk SD, SMP, SMA atau sederajat. Di sini diatur mengenai satuan pendidikan, lahan, bangunan gedung, serta ketentuan sarana dan prasarana.
Jumlah siswa per kelas untuk SD ditetapkan maksimal 28 orang, SMP dan SMA (32 orang). Jarak sekolah dari permukiman di daerah terpencil, untuk SD diusahakan maksimal tiga kilometer dan SMP berjarak maksimal enam kilometer.
Sarana dan prasarana di tingkat SD, terdiri dari ruang kelas, perpustakaan—bagi siswa dan guru, laboratorium IPA, ruang pimpinan, ruang guru, tempat beribadah, ruang UKS, jamban, gudang, ruang sirkulasi, dan tempat bermain/berolahraga.
Untuk SMP ditambah ruang tata usaha, ruang konseling, dan ruang organisasi kesiswaan. Laboratorium SMA meliputi lab biologi, fisika, kimia, komputer, dan bahasa.

Read More......

Buku sebagai Sarana Komunikasi orang Tua dan Anak
http://groups.yahoo.com/group/puskur/message/2852
Kebiasaan membaca harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Sebab, buku tak hanya fondasi dasar utama bagi perkembangan mental dan spiritual seorang anak, tapi juga sebagai sumber pengetahuan serta sarana pembina kematangan berpikirnya. Dengan melalui buku si anak akan diajar untuk mengenal segala sesuatu yang ada dan apa yang terjadi di alam semesta.
Pengertian ini sangat membantu pembentukan kepribadian dan pola pikir seorang anak. Komunikasi anak dengan buku tidak dapat dihalangi oleh siapa pun. Seorang pakar linguistik dari sebuah universitas ternama di California, Susan Curtis, menyatakan bahwa komunikasi sangat esensial bagi pengembangan kepribadian manusia. Para ahli ilmu-ilmu sosial berulang kali mengemukakan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan baik (terutama dalam keluarga), menjadi penghambat perkembangan kepribadian dan pengalaman kesadaran manusia.
Keluarga menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk berkenalan dengan buku. Peranan kedua orangtua sangat besar dalam menanamkan rasa cinta buku kepada anak-anaknya. Proses ini dapat dimulai sejak usia dini. Mendongeng sebelum tidur perlu dilakukan karena rutinitas ini tidak hanya mengandung aspek pendidikan, juga menjadi saat-saat yang berharga untuk menjalin hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Read More......

FASILITAS PENDIDIKAN SMU
BELUM MEMADAI
www.antarasumut.com
Medan, 30/10 (ANTARA) - Fasilitas pendidikan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dinilai masih jauh dari standar, sebab kondisi peralatan yang ada sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan dunia industri saat ini.
“Memang peralatan untuk SMK ini masih sangat kurang. Kalaupun ada itu harus sudah direnovasi kembali karena sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan teknologi saat ini yang semakin cepat,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Medan, Daswaruddin Siregar, di Medan, Kamis.
Ia mengatakan, selama ini dalam pemenuhan alat-alat praktik untuk SMK, pihaknya selalu berharap dari pemerintah pusat dan pihak ketiga.
“Kami hanya membantu dana operasional sekolah saja, seperti listrik dan oli. Sementara kalau untuk membeli alatnya belum ada dana karena harga per unit sangat mahal dan belum ada anggaran untuk itu,” katanya.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Medan, Mutsyuhito Solin, mengatakan, selama ini perkembangan sekolah kejuruan masih kurang dibandingkan sekolah umum. Ia menilai pemenuhan peralatan dan perlengkapan belajar bagi siswa SMK mutlak diperlukan, sebab penekanan ilmu di SMK lebih banyak terapan dari teori.
“Alat peraga dan fasilitas pendidikan untuk SMK harus lebih baik. Jika tidak mereka akan sulit untuk meningkatkan mutunya,” katanya.
Untuk itu, diharapkan kepada pemerintah agar lebih giat lagi mengembangkan sekolah kejuruan yang disertai dengan kelengkapan alat-alat praktik agar lulusannya dapat mandiri dan memiliki keunggulan.

Read More......

Pengembangan dan Peningkatan
Sarana dan Prasarana
http://www.padang.go.id/v2/content/view/22/93/
Pengembangan dan Peningkatan Sarana dan Prasarana di sektor perhubungan terus dilakukan oleh Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
Panjang jalan di Kota Padang pada tahun 2003 mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2002, yaitu dari 843,45 km menjadi 943,72 km pada tahun 2003 ini, jalan yang diaspal beton telah mencapai 78,68 persen yaitu 742, 57 km. Kondisi jalan pada tahu 2003, sebesar 63,95 persen berkondisi baik, 27,71 persen berkondisi sedang, dan hanya 8,34 persen yang berkondisi rusak. Sedangkan jumlah jembatan di Kota padang pada tahun 2003 adalah sebanyak 154 buah dengan total panjang mencapai 2.700 meter yang terdiri dari berbagai jenis.
Jumlah angkutan umum pada tahun 2003 mengalami peningkatan kecuali pada jenis Bemo dan Oplet. Jumlah mikrolet pada tahun 2003 adalah sebanyak 1.756 buah, bus kota sebanyak 423 buah dan taksi sebanyak 621 buah.
Untuk angkutan udara pada tahun 2003 mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Pada tahun 2003 jumlah keberangkatan adalah 5.009 kali dan kedatangan 5.003 kali, yang dilayani oleh kurang lebih 9 maskapai penerbangan, sedangkan tahun 2002 hanya sebanyak 3.200 untuk keberangkatan dan 3.200 kali untuk kedatangan.
Pada angkutan laut terjadi penurunan aktifitas, ini terlihat dari jumlah berat kapal yang bersandar di pelabuhan teluk bayur, pada tahun 2003 hanya 323.634 ton, sedangkan pada tahun 2002 sebesar 1.181.374 ton.

Read More......

PENGERTIAN MEDIA
http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17pemilihan-media-pembelajaran/
AECT : media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi
Gagne : media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar
Briggs : media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar
NEA : media adalah bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya
MEDIA adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi
KEGUNAAN MEDIA
* Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis
* Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera
* Mengatasi sikap pasif siswa menjadi lebih bergairah
* Mengkondisikan munculnya persamaan persepsi dan pengalaman
PERTIMBANGAN PEMILIHAN MEDIA
* Tujuan yang ingin dicapai
* Karakteristik siswa/sasaran
* Jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio, visual, gerak)
* Keadaan lingkungan setempat
* Luasnya jangkauan yang ingin dilayani

Read More......

Manajemen perawatan preventif
sarana dan prasana sekolah
www.akhmadsudarajat.wordpress.com
Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik, seperti gedung, mebeler, dan peralatan sekolah lainnya, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana sekolah. Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana, membuat daftar sarana dan pra saran, menyiapkan jadwal kegiatan perawatan, menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah. Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana, mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana, menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah, dan membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah.

Read More......

Langkah-langkah mudah
mengembangkan multimedia pembelajaran
www.akhmadsudarajat.wordpress.com
TENTUKAN JENIS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Perhatikan dengan benar, yang akan kita buat itu apakah alat bantu kita untuk mengajar (presentasi) ke siswa atau kita arahkan untuk bisa dibawa pulang siswa alias untuk belajar mandiri di rumah atau sekolah. Jenis multimedia pembelajaran menurut kegunannya ada dua:
Multimedia Presentasi Pembelajaran: Alat bantu guru dalam proses pembelajaran di kelas dan tidak menggantikan guru secara keseluruhan. Berupa pointer-pointer materi yang disajikan (explicit knowledge) dan bisa saja ditambahi dengan multimedia linear berupa film dan video untuk memperkuat pemahaman siswa. Dapat dikembangkan dengan software presentasi seperti: OpenOffice Impress, Microsoft PowerPoint, dsb.
Multimedia Pembelajaran Mandiri: Software pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh siswa secara mandiri alias tanpa bantuan guru. Multimedia pembelajaran mandiri harus dapat memadukan explicit knowledge (pengetahuan tertulis yang ada di buku, artikel, dsb) dan tacit knowledge (know how, rule of thumb, pengalaman guru). Tentu karena menggantikan guru, harus ada fitur assesment untuk latihan, ujian dan simulasi termasuk tahapan pemecahan masalahnya. Untuk level yang kompleks dapat menggunakan software semacam Macromedia Authorware atau Adobe Flash. Sayangnya saya masih belum bisa nemukan yang selevel dengan itu untuk opensource-nya. Kita juga bisa menggunakan software yang mudah seperti OpenOffice Impress atau Microsoft PowerPoint, asal kita mau jeli dan cerdas memanfaatkan berbagai efek animasi dan fitur yang ada di kedua software terebut.
TENTUKAN TEMA MATERI AJAR
Ambil tema bahan ajar yang menurut kita sangat membantu meningkatkan pemahaman ke siswa dan menarik bila kita gunakan multimedia. Ingat bahwa tujuan utama kita membuat multimedia pembelajaran adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa. Jangan terjebak ke memindahkan buku ke media digital, karena ini malah mempersulit siswa. Ketika guru biologi ingin menggambarkan sebuah jenis tumbuhan supaya bisa dipahami siswa, dan itu sulit ternyata dilakukan (karena guru tidak bisa nggambar di komputer, dsb), makanya ya jangan dilakukan Alangkah lebih baik apabila pohon tersebut dibawa saja langsung ke depan kelas. Ini salah satu contoh bagaimana media pembelajaran itu sebenarnya tidak harus dengan teknologi informasi. Dalam sertifikasi guru, pemanfaatan media pembelajaran seperti pohon itu, atau kecoak dikeringkan, dsb tetap mendapatkan poin penilaian yang signifikan.
SUSUN ALUR CERITA (STORYBOARD)
Susun alur cerita atau storyboard yang memberi gambaran seperti apa materi ajar akan disampaikan. Jangan beranggapan bahwa storyboard itu hal yang susah, bahkan point-point saja asalkan bisa memberi desain besar bagaimana materi diajarkan sudah lebih dari cukup. Cara membuatnya juga cukup dengan software pengolah kata maupun spreadsheet yang kita kuasai, tidak perlu muluk-muluk menggunakan aplikasi pembuat storyboard professional. Untuk storyboard sederhana, saya berikan contoh karya pak ismudji dari SMA Bontang, Kaltim . Sedangkan yang agak kompleks, bisa dilihat dari yang dibuat teman-teman di Brainmatics dan IlmuKomputer.Com untuk konten Rekayasa Perangkat Lunak.
MULAI BUAT SEKARANG JUGA!
Jangan menunda atau mengulur waktu lagi, buat sekarang juga! Siapkan Openoffice Impress atau Microsoft PowerPoint anda. Mulai buat slide pertama, isikan bahan ajar yang ingin anda multimedia-kan. Terus masukkan bahan ajar anda di slide slide berikutnya, mulai mainkan image, link dengan gambar, suara dan video yang bisa kita peroleh dengan gampang di Internet. Bisa juga memanfaatkan sebuah situs untuk mencari ide Jangan lupa juga bahwa banyak pemenang-pemenang lomba pengembangan multimedia pembelajaran yang hanya bermodal Openoffice Impress atau PowerPoint sudah cukup membuat karya yang berkualitas tinggi. Gambar disamping saya ambil dari karya pak Teopilus Malatuni, guru SMAN 1 Kaimana Papua Barat yang dibuat dengan tool sederhana, bisa emdapatkan nilai yang tinggi. Kuncinya adalah tekun, sabar dan pantang menyerah. Tidak ada ilmu pengetahuan yang bisa didapat secara instan, semua melewati proses panjang.
GUNAKAN TEKNIK ATM
Terapkan metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Usahakan sering melihat contoh-contoh yang sudah ada untuk membangkitkan ide. Gunakan logo, icon dan image yang tersedia secara default. Apabila masih kurang puas:
* Cari dari berbagai sumber * Buat sendiri apabila mampu
Saya berikan contoh bagaimana perdjoeangan mas Heru Suseno, guru fisika dari SMA Negeri 2 Madiun. Mas Heru ini dengan seriusnya menerapkan ATM dengan mencoba meniru tampilan Microsoft Encarta di tahun 2006. Pada tahun 2007 beliau sudah berhasil memperbaiki dan memodifikasi karya untuk selevel Encarta, tapi sudah tidak nyontek Encarta lagi
TETAPKAN TARGET
Jaga keseriusan proses belajar dengan membuat target pribadi, misalnya untuk mengikuti lomba, memenangkan award, menyiapkan produk untuk dijual, atau deadline jadwal mengajar di kelas. Target perlu supaya proses belajar membuat multimedia pembelajaran terjaga dan bisa berjalan secara kontinyu alias tidak putus di tengah jalan. Untuk lomba dan award, paling tidak di Indonesia ada berbagai event nasional yang bisa kita jadikan target. Balai pengembangan multimedia dan dinas pendidikan nasional di berbagai daerah saat ini saya lihat mulai marak menyelenggarakan berbagai event lomba di tingkat lokal.
* Teacher Innovation (Microsoft): Sekitar Mei * Lomba Pembuatan Multimedia Pembelajaran (Dikmenum): Sekitar Oktober * eLearning Award (Pustekkom): Sekitar September * Game Technology Competition (BPKLN): Setahun 3-4 kali di berbagai universitas * dsb
INGAT TERUS TIGA RESEP DARI SUCCESS STORY
Dari pengalaman menjadi juri di berbagai acara, saya lihat kesuksesan bapak ibu guru dalam mengembangkan multimedia pembelajaran bukan dari kelengkapan infrastruktur atau berlimpahnya budget yang dimiliki, tapi justru dari ketiga hal ini:
Berani mencoba dan mencoba lagi Belajar mandiri (otodidak) dari buku-buku yang ada (perlu investasi membeli buku) Tekun dan tidak menyerah meskipun peralatan terbatas
Saya berikan contoh bagaimana pak Joko Triyono, guru kesenian dari SMA prembun berdjoeang sampai akhirnya menikmati banyak penghargaan di berbagai event. Saya ingat benar karya pertama beliau tahun 2005 berformat HTML, masih polos sekali, bahkan beberapa halaman error karena salah link. Kemudian beliau belajar dari awal menggunakan software presentasi dan akhirnya tahun 2007 beliau berhasil menghasilkan produk yang sudah siap jual dalam tema Musik Gamelan. Beliau rekam satu persatu puluhan peralatan gamelan jawa, dan dimasukkan ke multimedia pembelajaran yang beliau buat. Dahsyatnya kita bisa nanggap wayang tanpa gamelan dan gending asli, cukup dengan software itu saja, Rata Penuhasal dimainkan banyak orang dengan masing-masing memilih satu jenis gamelan.
Tentu tidak ada kata mudah dalam berdjoeang, paling tidak 7 hal diatas adalah langkah yang cukup mudah ditempuh dan pada kenyataannya banyak yang berhasil berkarya karena tekun dan pantang menyerah mengulang-ulang 7 hal itu.

Read More......

Manajemen Perlengkapan
www.akhmadsudarajat.wordpress.com
Gedung sekolah dapat memberi gambaran yang jelas bagi masyarakat tentang baik buruknya pelayanan pendidikan yang ada didalamnya. Gedung sekolah yang terawat dengan baik akan memberi gambaran pada masyarakat tentang pelayanan pendidikan yang tertib dan teratur. Sebaliknya gedung sekolah yang tidak terawat, rusak, halaman penuh rumput yang tidak teratur akanmemberi kesan bahwa mutu pendidikan yang ada di dalamnya tidak baik.
Di samping itu pembinaan/perawatan gedung sekolah merupakan suatu hal yang sangat penting mengingat bahwa hampur seluruh waktu belajar siswa berlangsung di sekolah. Mereka hanya dapat belajar dengan baik apabila merasa krasan. Dan mereka hanya krasan apabila kondisi tempat belajarnya menyenangkan. Dengan gedung sekolah yang terawat baik, anak-anak akan merasa senang dan mempunyai kebanggaan terhadap sekolahnya.
Perlengkapan dan peralatan sekolah juga merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan efisiensi belajar dan mengajar. Guru tidak mungkin dapat mengajar dengan senang dan bersemangat dengan perlengkapan kuno dan rusak, peralatan yang kurang lengkap dsb. Oleh karena itu Pimpinan sekolah harus menaruh perhatian yang serius terhadap perlengkapan serta peralatan sekolah. Ia harus mampu mendorong guru-guru untuk bersama-sama memperhatikan masalah ini.
Dalam hal ini yang tidak boleh dilupakan oleh pimpinan sekolah ialah usaha-usaha pengadaan dana antara lain untuk keperluan :
- Penambahan ruang kelas atau ruang yang lain
- Rehabilitasi bagian-bagian yang rusak
- Perbaikan perlengkapan dan peralatan
- Penambahan perlengkapan dan peralatan
- Memodernisasikan perlengkapan dan peralatan , dll.
Manajemen yang berhubungan dengan pemeliharaan gedung, perlengkapan, peralatan, antara lain :
Buku laporan (tahunan, caturwulan/semesteran) tentang keadaan bangunan sekolah, denah dan situasi bangunan, kebun sekolah, dsb.
Buku inventaris
Buku penerimaan alat-alat dan perlengkapan, dsb.

Read More......